Teman Bicara
Uncategorized No Comments »
Menurut Mbah Kahlil Gibran dalam ‘Sang Nabi’, “Kalian berbicara ketika pikiran tidak tenang. Ketika tidak tahan lagi berdiam dalam hati, kalian hidup melalui bibir- dan kata yang bersuara menjadi satu-satunya pengobat jiwa.”
Bagi orang yang terbiasa berdialog dan berdiskusi, mungkin terasa seperti sebuah siksaan, ketika tiada orang lain yang dapat diajaknya berbincang. Dan meski dalam keseharianku relatif pendiam, pernah kurasakan jua betapa sepinya tanpa teman bicara. Bahkan saat itu lantas kutuliskan rangkaian kata, yang menjelma sebagai lirik sebuah lagu bertajuk ‘Kesenjangan’. Bagian ‘bridge’ lirik tersebut adalah tulisan Ijus Narwanto(teman di masa lalu yg lama sekali tak kutahu kabarnya) di sebuah kartu lebaran buatku, dengan sedikit perubahan.
KESENJANGAN
Mungkin bukan semata-mata salahku
Begitu saja sepertinya tinggalkanmu
Sudah kerap kucoba ‘tuk jumpaimu
Tapi kita tak jua kunjung bertemu
Mengapa seakan ada sekat di hadapan
Tak pernah lagi kauberikan perhatian
Sepertinya menjelma kesenjangan
Inikah akhir sebuah pertemanan
Reff:
Berkurang nian
Wahana ‘tuk curahan hati
Hampa menyapa
Saat s’gala suka duka
Kurasakan sendiri
Bridge:
Terlalu jauh suaramu kudengar
Dalam kebisingan angan dan cita
Usang sudah arti sebuah kebersamaan
Hingga hanya lagu ini yang dapat kuciptakan
Sejak akhir tahun lalu hingga saat ini, rasanya kian berkurang saja teman bicara dalam hidupku. Sesekali masih ada yang bisa kuajak bicara, hanya intensitasnya tak sekerap dulu. Sebuah kehilangan besar, tentu saja adalah wafatnya Ibunda tercinta pada hari pertama tahun 2007 lalu. Begitu banyak materi pembicaraan yang pernah kumiliki bersama Ibu. Sudah mustahil terjadi lagi, dialog di antara kami. Tapi syukurlah, masih kusadari bahwa sesungguhnya selalu ada teman bicara bagiku yang paling mengasyikkan sepanjang waktu. Meski Dia tak pernah secara langsung menanggapi kata-kataku, namun kuyakin bahwa Dia selalu mendengarkanku, dan akhirnya selalu ada jawaban-jawaban-Nya untukku. Insya Allah, Amin.
Dan kuucapkan beribu terima kasih bagi para penemu teknologi internet, email, telepon, dan SMS yang membuat pembicaraan bisa berlangsung tanpa kita mesti bertatap muka.
Kembali kata Mbah Kahlil, “Di antara kalian ada yang mencari kawan yang pandai bicara, karena takut akan tertimpa sepi. Padahal kesunyian yang kalian menjauhinya, adalah mata yang akan membuka kekurangan diri.”
Prawirotaman, 24 Februari 2007