Sebatas Hasrat : sebuah repetisi*

Uncategorized No Comments »

Terpanaku pada dirimu

sang empunya wajah lembut nan ayu

dengan senyuman indahmu

Bergeloralah rasa jiwa

sehingga menjadi sukacita

merasakan hangat ramah sapamu

yang meneduhkan kalbu

Menjelmalah sebuah hasrat

dari diri yang telah terpikat

agar dirimu selalu dekat

Tapi aku lalu menyadari

bahwa hasrat itu sebatas mimpi

yang tiada mungkin akan terjadi

Sebab kasihmu telah terikat

pada janji suci nan erat

Mengapa tak sedari dulu

terpesonanya aku padamu

Usai kesempatan menggapaimu

Maka tinggal kunikmati saja

sejenak masa yang tersisa

Berada dekatmu pujaanku

(biar sekejab waktu)

berbunga-bungalah kalbu

*Sebuah lirik lagu yang kutulis di tahun 2000, sepulangku dari sebuah daerah yang asri berhawa dingin di Jawa Barat. Tak kuduga mesti kualami lagi kisah serupa itu. Tapi tak apalah, bisa sekadar memberi warna lain dalam hidupku : jatuh cinta(lagi)sekejab.

Mobil Jenazah

Uncategorized No Comments »

 

 

Sepanjang hayatku, telah beberapa kali aku naik ambulans yang membawa jenazah orang-orang yang kusayangi. Pertama kali ketika usiaku belum genap 17 tahun, aku berada di kursi depan bersama Ibu di dalam mobil yang membawa jasad Bapak dari rumah sakit menuju rumah. Yang kedua kalinya adalah saat adik nenekku wafat, aku duduk di belakang bersama beberapa orang dan peti jenazah almarhum. Aku sebagai wakil keluarga menjadi penunjuk jalan menuju makam. Sesuatu yang unik saat itu adalah dihentikannya mobil jenazah oleh dua orang perempuan di tengah jalan. Keduanya terjadi di Yogyakarta. Kesempatan ketigaku terjadi di Jakarta, baru di bulan April 2007 lalu. Aku hanya bertiga dengan kedua adik sepupuku duduk di belakang bersama jasad Eyang Puteri. Sempat aku merasa trenyuh saat perjalanan menuju makam, karena baru sekitar 100 hari sebelumnya kuantar mendiang ibuku ke tempat peristirahatan terakhirnya. Namun, segera kusadari bahwa itulah takdir terbaik dari Ilahi Robbi, baik untuk mereka maupun bagiku sendiri.

Suatu saat, mungkin jenazahku akan dibawa dengan mobil jenazah pula. Kecuali jika aku mati di rumah dan jenazahku cukup dibawa dengan berjalan kaki menuju tempat peristirahatan terakhirku nanti. Setidak-tidaknya aku sudah berpengalaman naik mobil jenazah, kendati tak sekerap supir kendaraan tersebut.

Sempat terpikirkan olehku, apakah mereka yang karena pekerjaannya biasa berhadapan dengan jenazah, seperti : dokter, petugas paramedis, polisi, supir mobil jenazah, petugas perawatan jenazah, penggali kubur, dan penjaga makam, menjadi lebih siap dan berani menghadapi kematian mereka sendiri, ketimbang kita yang tak biasa berhadapan dengannya? Entahlah, mungkin saja.

bukan puisi

Uncategorized No Comments »

Di masa silam mudah saja sepertinya

Kusuratkan sejumlah kata

Ada yang lazim, sesekali tak biasa

Yang terang mesti bermakna

Lantas, puisi pun menjelma

Di masa kini menjadi sulit kenyataannya

Masih terus kusuratkan banyak kata

Malah wujudnya begitu beraneka

Yang jelas tetap bermakna

Namun, bukanlah puisi namanya

030807


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in