Pangeran Cinta Di-mifa (cuplikan sebuah cerpenku)

Uncategorized No Comments »

           Kendati
Di-mifa seorang pangeran nan tampan, baik hati, serta halus budi
bahasanya, namun dalam kisah cinta belumlah mujur nasibnya. Pernah
jatuh cintalah ia pada seorang dara ayu yang ditemuinya di keramaian
pasar ibukota. Dengan penampilan bersahaja dan tanpa pengawalan
prajurit kerajaan, Di-mifa memang kerap menapakkan langkahnya ke
berbagai penjuru Bifet. Tak banyak orang mengenalnya di antara
kerumunan, namun kharismanya sebagai seorang putera raja kadang tak
jua tersamar. Suatu saat, setelah beberapa kali sekadar menatapnya,
Di-mifa pun mengucap kata,

Duhai
puteri jelita, tak sadarkah bahwa dikau ibarat seorang penjaga?”

Apa
maksud Anda, tuan muda?”

Indah
parasmu dan elok tindak tandukmu sungguh membuatku terpana. Kau
menjadi penjaga yang telah menawan hatiku."

Sang
dara tersipu-sipu, senyumnya terkembang malu-malu. Ternyata dara
tersebut merupakan puteri salah satu prajurit kerajaan Bifet. Namun
sayang, perempuan yang dicintainya itu telah memiliki seorang
kekasih. Kekasihnya itu seorang pemuda biasa yang menjadi seorang
pedagang kain di pasar ibukota kerajaan. Demi baktinya pada raja
Macello, sang prajurit dan si pedagang telah merelakan puteri dan
kekasihnya dinikahi sang pangeran. Justru Di-mifa yang enggan
menerimanya.

Sungguh
tak adil jika aku menjadi sebab koyaknya jalinan cinta dua anak
manusia yang saling mencintai. Sekiranya aku tahu dia telah
berkekasih, tentu tak akan kubiarkan perasaanku berkembang, hingga
sempat kudekati dia. Biarkan mereka tetap berdua dalam cintanya,”
tutur sang pangeran sendu. Si perempuan dan kekasihnya begitu
berterima kasih pada kebesaran jiwa sang pangeran.

curhat bulan ke-9

Uncategorized No Comments »

Seseorang pernah berkata padaku, ketika kita kehilangan salah satu orang tua kita, dan pada saat itu terjadi sudah ada seseorang yang menjadi pasangan hidup kita, rasa kehilangan itu pasti tak akan sedalam jika kita masih sendiri. Sesuatu yang sungguh masuk akal memang. Tapi ketika itu terjadi dan salah satu orang tua kita ternyata masih ada, rasanya kehilangan itu pun tak akan terlampau dalam. Hanya jika tinggal satu orang tua kita dan dia pun pergi untuk selamanya, pada saat itulah seorang pasangan hidup akan menjadi salah satu pengobat rasa kehilangan yang mujarab. Mengapa dia hanya menjadi salah satunya, karena yang terpenting adalah keikhlasan hati dan kepasrahan pada Ilahi untuk menerima kenyataan itu.

Kusuratkan kata-kata tersebut di atas pada bulan September 2006, sekitar setahun silam. Ketika itu ibuku sering merasa sesak bernafas dan baru saja diperiksakan ke dokter. Tak pernah kuduga, sekitar tiga bulan berikutnya kuhadapi kenyataan bahwa Ibu -orang tuaku yang tinggal satu- pergi menghadap Ilahi. Mungkin aku telah diberi-Nya ilham untuk menulis curhat itu, supaya aku relatif lebih siap ketika ibuku akhirnya benar-benar pergi. Hatiku ternyata ikhlas menerima takdir-Nya itu, kendati ketika kerinduan pada Ibu menghampiri, air mata kadang menetes sendiri.

sendiri tak sepi

Uncategorized No Comments »

Dulu sempat seolah sendiri itu selalu sepi

Kendati kadang sepi juga tak selalu saat sendiri

Namun kini sendiri pun tak merasa sepi

Dan tak pernah sepi ketika tak sendiri

Hanya selalu mencoba mensyukuri

Seperti apapun situasi dan kondisi

Yang dihadapi setiap hari

040907

Ramadhan yang berbeda

Uncategorized No Comments »

Marhaban ya Ramadhan. Telah kembali setahun berlalu hingga tiba di bulan sucinya umat Islam lagi. Telah banyak peristiwa dan perubahan yang terjadi dalam kurun waktu setahun terakhir ini. Ramadhan setahun silam, sempat selama 12 hari aku selalu makan sahur di rumah sakit, seraya menunggui sakitnya ibuku. Setelah Ibu pulang dari rumah sakit, di rumah aku masih lebih kerap sahur sendirian, karena Ibu tinggal bersama keluarga kakakku hingga sehabis lebaran. Ramadhan saat itu sudah berbeda ketimbang Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Namun tahun ini Ramadhan kembali berbeda karena sudah tiada lagi Ibu bersama kami. Tinggal sepasang kakak beradik yang masih lajang selalu sahur dan berbuka berdua saja di sebuah rumah. Pada hari kelima Ramadhan tak ada yang terjaga pada saatnya sahur, jadi untuk satu hari kami puasa tanpa makan sahur. Sesuatu yang rasanya tak pernah terjadi ketika Ibu masih ada tempo hari. Tapi semoga cukup sehari ini, dan besok sampai usai Ramadhan nanti, kami selalu bisa sahur lagi setiap tiba dini hari.

Memang sudah tiada lagi kesempatan bagiku menunjukkan darmabaktiku pada Ibu seperti tahun lalu. Namun insya Allah aku masih bisa berupaya menjadi anak yang sholeh dengan amal ibadah yang lebih apik di sepanjang Ramadhan tahun ini. Semoga benar-benar bisa kumanfaatkan waktu untuk bisa menebus segenap dosa kesalahanku, seraya berharap selalu mendapat ridho Ilahi dan lebih karib dengan-Nya lagi. Jadi tak hanya berbeda tahun ini tanpa Ibunda lagi, namun berbeda pula karena ada banyak hal yang namanya perubahan dan kemajuan. Amin.

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan…


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in