Senin ke-4 Januari 2008

Uncategorized No Comments »

Selama
tiga pekan, setiap hari Senin di sepanjang bulan Januari lalu, aku
bersama teman-teman selalu melewati kota Solo dan berhenti di suatu
desa yang termasuk wilayah Karanganyar. Di tempat itu kami bekerja
hingga petang atau malam. Setiap tiba di salah satu pertigaan selalu
kubaca papan bertuliskan Astana Giribangun. Sejak minggu pertama
sudah ada berita menurunnya kondisi kesehatan mantan Presiden
Soeharto. Jadi kami kadang membicarakan masa lalu tentang masa
pemerintahan sang mantan presiden yang kualami lebih dari 20 tahun.
Terus terang aku lebih banyak bersyukur mengingat apa yang telah
terjadi ketimbang menyesalinya. Apalagi tempat kami bekerja juga
diresmikan oleh Pak Harto. Sempat juga kami berteka-teki, kira-kira
bagaimana akhir ceritanya?

Ternyata
Senin ke-4 Januari 2008 menjadi hari pemakaman mantan presiden ke-2
RI yang wafat sehari sebelumnya. Aku tak hendak membicarakan
bagaimana perasaanku di sini. Aku hanya mau bilang, syukurlah hari
Senin kemarin kami tak melewati Solo lagi, jadi kami tak terjebak
keriuhrendahan yang terjadi di sana. Ternyata rute yang dilewati
rombongan pembawa jenazah Pak Harto mayoritas selalu kami lalui
setiap ke Solo.

Pada
hari Senin kemarin aku lebih banyak di depan televisi, menjadi saksi
sejarah prosesi pemakaman seorang mantan presiden. Ada banyak hal
yang menarik bagiku menyimak pembicaraan dari orang-orang yang pernah
dekat dan menjadi musuh seorang Soeharto, maupun dari para pakar yang
netral. Mereka di antaranya adalah Pak Sarwono yang mantan menteri,
Mbak Linda yang mantan wartawan istana, Pak Amien Rais yang jago
kritik, Bung Emha, Bung Sukardi, dan Bung Effendi Gazali. Ada yang
mengesankanku dari apa kata Pak Amien. Selama ini banyak yang
meributkan bahwa Soeharto pantas dihukum atas berbagai kesalahannya.
Tapi jika kita melihat kondisinya sejak 1998 yang telah kehilangan
kekuasaannya, menurun jauh kesehatan lahir batinnya, dan tak bisa
lagi menikmati dunia, sebenarnya Pak Harto telah mendapatkan
hukumannya di dunia. Dalam hal ini aku sepakat dengan pendapat Pak
Amien.    

 


Sang
Jenderal Besar Telah Berpulang

 


Setelah
sempat menjadi teka-teki,

akhirnya
terjawab sudah akhir

riwayat
hidup Sang Jenderal Besar

 


Pada
sebuah Minggu siang malaikat maut

telah
menjalankan tugas dari-Nya pada

seorang
mantan pemimpin sebuah negara

 


Jadi
sedih dan rasanya kehilangan ketika

mengenang
masa silam cemerlang

di
bawah kepemimpinannya, kendati

terlintas
pula kelam sekejab

 


Ternyata
masih ada cinta dan kasih sayang

dari
anak bangsa bagi bapaknya,

yang
sepuluh tahun silam

hingga
sekian waktu kemudian senantiasa

menjadi
bahan hujatan, makian, cacian,

dan
seolah menjadi sumber kekacauan

serta
ketidakberesan yang terjadi di negeri ini

 


Hanya
bisa berdoa dan berharap :

Semoga
segala dosa kesalahannya diampuni Tuhan

dan
segenap amal kebaikan Pak Harto diterima di sisi-Nya

 

Amin

 

Hal Baru di Awal tahun Baru

Uncategorized No Comments »

Setelah sekitar sebulan aku tak bisa menulis dengan komputer di rumah yang dikotori virus, syukurlah bahwa akhirnya aku bisa menulis lagi karena komputernya telah bersih. Selama 15 hari pertama di tahun yang baru berganti, ternyata cukup sarat dengan hal baru pula dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku bisa sejenak bercengkrama di sebuah kafé di kawasan Prawirotaman dan merasakan minuman-makanan mahal ala wong Londo, gratisan bersama dua orang teman lawasku.

Lantas, baru kurasakan pula kembali bekerja dalam sebuah tim di sebuah pabrik besar yang diresmikan oleh Pak Harto pada tahun 80-an, yang berlokasi tak jauh dari Solo. Ketika aku tengah berada di lapangan, kudapatkan sebuah SMS dari nomor yang tak kukenal. Ternyata SMS itu dari pemimpin redaksi Horison! Katanya cerpenku cukup bagus dan dimintanya aku mengirim foto-biodata ke majalah sastra itu. Wow, berarti cerpenku bakal ada yang dimuat di majalah lagi, meski aku diharapkan bersabar karena masih menunggu giliran. Bagaimanapun, kembali syukur alhamdulillah.

Pada sebuah malam kusaksikan pertunjukan teater dari aktor-aktor muda binaan Teater Garasi di panggung terbuka TBY. Baru pertama kalinya juga kulihat pertunjukan di tempat itu, sementara biasanya ada ruang seminar, ruang pameran, concert hall, dan gedung sositet yang pernah kutapaki. Cukup mengejutkan melihat antusiasme anak-anak muda Jogja yang memilih acara malam Minggunya dengan nonton teater. Malam itu kujumpai beberapa orang yang kukenal dan lama tak bersua denganku, termasuk seorang teman SMA-ku.

Di hari selanjutnya aku melakukan debut menjalani pengobatan ala Rasulullah, yaitu bekam. Ternyata sakit juga yang namanya dibekam. Bersama darah kotorku keluar cairan berminyak, yang menurut dugaan si petugas, aku kelebihan gula/kolesterol. Setidaknya mereka sudah keluar dari tubuhku sehabis dibekam. Yang jelas, aku mesti lebih menjaga makanan dan minumanku nih…

Pada hari ke-15 kudapatkan kejutan, sebuah paket dari BOLA yang isinya sebuah kaos Adidas yang masih ada label harganya. Ternyata tulisan pertama yang kukirim ke BOLAVAGANZA sebulan silam dimuat (dan layak diberi hadiah) bersama tulisanku yang lain di edisi terbaru majalah itu.

Alhamdulillahirobbil’alamin…

Sebatas 16

Uncategorized No Comments »

Masihkah dapat kurasakan

memiliki Bunda tercinta

ketika tahun berganti?

Menjadi kecemasan beralasan bagiku

bertanya seperti itu, seraya menatap Bunda

yang kian lemah tanpa daya

dan tak lagi membuka mata

Kemudian sampailah pengujung sebuah tahun

dan hadirlah tahun nan baru

Sembari menatap semarak pesta kembang api

dari serambi lantai sekian rumah sakit,

kusyukuri pada Ilahi dan kukatakan pada-Nya :

Ya Allah, terima kasih Ibu masih ada bersamaku di tahun 2007 ini

Semoga masih ada hari-hari ketika Ibu tak lagi sakit,

telah kembali sehat, dan masih dapat kubahagiakan dia,

Ya Rabbi…

Ternyata sebatas 16 jam saja jatah

yang dimiliki Bunda di tahun yang baru berganti

Sepertinya Bunda sekadar ingin bertemu dahulu

dengan ibunya untuk terakhir kalinya

sebelum usai masa baktinya di bumi persada

Malaikat maut telah sempurna menjalankan tugas

menjemput nyawa Ibundaku tercinta

memenuhi panggilan suci dari Pemiliknya

di awal tahun baru

(Awal Januari 2008)

“Mengenang satu tahun wafatnya Ibunda”


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in