Berselimut Kabut

Uncategorized No Comments »

Sekian
bulan silam

Menjadi
sebuah keheranan tersendiri

Menatap
pagi di kotaku tampak remang-remang

Berselimut
kabut kendati tipis belaka

Sekian
bulan kemudian

Menjadi
pengalaman menakjubkan

Merasakan
hawa begitu dingin di dataran tinggi

Berselimut
kabut sejati hingga pandangan terhalang

Seperti
negeri di angan

Hijau
menghampar di beragam penjuru

Kesegaran
nyaris selalu menerpa

Hingga
kadang menggigilkan raga

Seperti
negeri di awan

Berselimut
kabut sepanjang waktu

Kendati
kadang sinar surya menyibak

Membawa
terang dan hangat sesekali

Dieng
– Februari 2008

Degradasi Tentatif

Uncategorized No Comments »

Sehabis sekian saat sudah sarat

Karunia, kenikmatan, kebahagiaan, kejayaan

Lantas bukannya kian disyukuri

Hidup yang dijalani

Namun justru menodai hari demi hari

Dengan bercak-bercak dosa, salah, dan alpa

Baik yang disadari maupun tanpa disengaja

Maka terang saja telah terjadi degradasi

Namun keterpurukan dilarang berkepanjangan

Mesti segera bangkit kembali, menanjak lagi

Sehabis sekian saat sudah sarat

Karunia, kenikmatan, kebahagiaan, kejayaan

Lantas jalan menyimpang sesaat

Maka bergegas saja menuju jalan kebenaran

Yang lurus, yang bercahaya, menuju surga

Karena sama sekali entahlah

Bilakah kesempatan untuk bertobat

Selalu hadir kembali setelah bermaksiat

Sepekan Berkesan

Uncategorized No Comments »

Selama sepekan terakhir ini cukup banyak hal mengesankan yang kualami. Jumat sore pekan lalu murid-murid baru memperdengarkan suaranya yang rata-rata cukup merdu. Sempat kutemani salah satu dari mereka yang menunggu dijemput pacarnya, sampai hujan turun membasahiku. Sabtu petang kujumpai belasan teman SMA-ku. Hanya sedikit dari mereka yang dalam beberapa tahun terakhir masih kutemui. Kami berencana mengadakan reuni SMA satu angkatan, sekalian acara Syawalan sehabis lebaran nanti. Semoga saja niat baik kami dapat terlaksana.

Minggu pagi aku kembali tergabung dalam tim Solo, yang kali ini hanya bertiga dan beranjak menuju Dieng. Sebelumnya aku hanya pernah sekali ke dataran tinggi itu belasan tahun silam. Sampai di tujuan, begitu keluar dari mobil, mulut kami sudah mengeluarkan uap saking dinginnya suhu udara. Sudah begitu hujan lalu turun dengan deras, disertai angin kencang yang kian mendinginkan badan. Kami tak bisa leluasa bekerja karena cuaca tak menentu, sehingga kami memilih bermalam, dan aku sempat tak bisa tidur nyenyak karena kedinginan.

Pagi harinya kami melanjutkan pekerjaan yang belum usai. Namun baru sekejab, kabut sudah turun dan menutupi pandangan kami. Dengan diiringi gerimis dan hembusan angin yang rada kencang, kami berusaha tetap bekerja. Akhirnya, dengan bantuan banyak orang – trims buat Pak Edi dan anak buahnya, juga Pak Dul dan warga desa setempat – rampunglah juga tugas kami. Syukurlah, sampai di Jogja Senin sore aku tetap sehat, kendati sempat menggigil tak karuan, kehujanan, kurang tidur, diselimuti kabut, dan sakit perut ketika berada di Dieng, sebuah tempat yang laksana negeri di awan.

Rabu kemarin kuterima lagi sebuah kenyataan indah. Cerpenku jadi dimuat Horison edisi bulan Februari 2008. Kudapatkan kepastiannya setelah kuhubungi pemred majalah sastra itu. Pak Jamal menjawab sms-ku ketika sedang kucari Horison edisi terbaru di Gramedia Sudirman. Puji syukurku pada Ilahi tentu akan selalu kuingat atas beragam nikmat karunia-Nya lagi yang bertubi-tubi.

Permen Tahun 80-an

Uncategorized No Comments »

Permen rasa mint alias rasa pedas atau semriwing yang ngetop di tahun 80-an, antara lain adalah Strepsils, Davos, dan Tic Tac. Almarhum bapakku adalah penggemar berat Strepsils dan Davos, sementara anak-anaknya lebih suka Tic Tac yang mungil bentuknya, jadi nggak terlalu pedas. Jaman sekarang aku nggak pernah memerhatikan apakah Strepsils masih ada, tapi Davos dan Tic Tac jelas masih dijual. Tapi saat ini seperti sudah ada duplikatnya, yaitu : Permen Woods (Strepsils), Boom(Davos), dan Frozz(Tic Tac).

Permen rasa kopi paling populer di tahun 80-an tentu saja adalah Chelsea dengan kotak kemasannya yang khas banget dan sekarang mungkin kedudukannya sudah digantikan oleh Kopiko.

Permen rasa buah yang mungil dan berwarna-warni, yang jadi favorit anak-anak tahun 80-an adalah Cocorico. Masih ada nggak ya permen ini, atau mungkin ada produk yang jadi duplikat Cocorico jaman sekarang ini?

Aku terinspirasi membuat tulisan ini saat lagi makan permen Woods rasa lemon, yang membuatku terkenang pada Strepsils rasa lemon, yang sering kuminta pada bapakku saat masih bocah dulu. Aku juga baru sadar bahwa kegemaranku mengonsumsi permen rasa mint ternyata sama dengan kebiasaan almarhum bapakku.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in