Selama sepekan terakhir ini cukup banyak hal mengesankan yang kualami. Jumat sore pekan lalu murid-murid baru memperdengarkan suaranya yang rata-rata cukup merdu. Sempat kutemani salah satu dari mereka yang menunggu dijemput pacarnya, sampai hujan turun membasahiku. Sabtu petang kujumpai belasan teman SMA-ku. Hanya sedikit dari mereka yang dalam beberapa tahun terakhir masih kutemui. Kami berencana mengadakan reuni SMA satu angkatan, sekalian acara Syawalan sehabis lebaran nanti. Semoga saja niat baik kami dapat terlaksana.

Minggu pagi aku kembali tergabung dalam tim Solo, yang kali ini hanya bertiga dan beranjak menuju Dieng. Sebelumnya aku hanya pernah sekali ke dataran tinggi itu belasan tahun silam. Sampai di tujuan, begitu keluar dari mobil, mulut kami sudah mengeluarkan uap saking dinginnya suhu udara. Sudah begitu hujan lalu turun dengan deras, disertai angin kencang yang kian mendinginkan badan. Kami tak bisa leluasa bekerja karena cuaca tak menentu, sehingga kami memilih bermalam, dan aku sempat tak bisa tidur nyenyak karena kedinginan.

Pagi harinya kami melanjutkan pekerjaan yang belum usai. Namun baru sekejab, kabut sudah turun dan menutupi pandangan kami. Dengan diiringi gerimis dan hembusan angin yang rada kencang, kami berusaha tetap bekerja. Akhirnya, dengan bantuan banyak orang – trims buat Pak Edi dan anak buahnya, juga Pak Dul dan warga desa setempat – rampunglah juga tugas kami. Syukurlah, sampai di Jogja Senin sore aku tetap sehat, kendati sempat menggigil tak karuan, kehujanan, kurang tidur, diselimuti kabut, dan sakit perut ketika berada di Dieng, sebuah tempat yang laksana negeri di awan.

Rabu kemarin kuterima lagi sebuah kenyataan indah. Cerpenku jadi dimuat Horison edisi bulan Februari 2008. Kudapatkan kepastiannya setelah kuhubungi pemred majalah sastra itu. Pak Jamal menjawab sms-ku ketika sedang kucari Horison edisi terbaru di Gramedia Sudirman. Puji syukurku pada Ilahi tentu akan selalu kuingat atas beragam nikmat karunia-Nya lagi yang bertubi-tubi.