Anggota ISTIkomah

Uncategorized 1 Comment »

“Gun, ntar mampir rumahku
dulu ya?” pinta Alex pada Guntur.

“Lha, kita  kan  bawa motor
sendiri-sendiri? Aku mesti ngapain?” sahut  Guntur.

“Tolong, pamitin ke istriku.”

Guntur tersenyum memakluminya.

“Ternyata Alex anggota
ISTIkomah juga nih?” sela Heru.

“Apaan tuh?” tanya Alex.

“Ikatan Suami Takut Istri
kalo di rumah.”

“Nggak gitu, Her. Soalnya
aku pernah pulang mabok. Habis aku dimarahi waktu itu.” 

Maka Guntur mengambil jalan
lebih jauh sebelum pulang demi membantu

sahabatnya.

“Aku nganter Alex balik
nih,” ucap  Guntur  pada Via, istri Alex.

“Wah, kok pake dianter
segala?” tanya Via.

“Iya, Alex nggak berani
pulang sendiri tuh.”

Alex cuma tersenyum kecut.

 

Cerpen 100 kata ini
terinspirasi kejadian nyata Minggu lalu (25/5).

Thanks a lot for Ivy, Nonot & Yoke. This story is for you. 

 

Ketika Hujan Turun Lagi

Uncategorized No Comments »

Setelah
sempat dua kali terjadi di awal bulan ini, tiba-tiba hujan turun lagi pada hari
ke-21 malam. Kupikir saat ini sudah musim kemarau, karena sekian hari matahari
selalu bersinar ketika siang, dan bulan berteman bintang serta langit cerah
kala malam. Tapi mungkin hujan kembali diturunkan untuk mendinginkan hati yang
panas, karena beban kehidupan kita yang bakal kian berat sejak kepastian rencana
kenaikan harga BBM tempo hari. Mungkin juga ada hujan lagi supaya pikiran jadi
segar dan jernih, karena akhir-akhir ini pasti jadi ruwet, terus malah mumet.

Sekian
tahun lalu ketika harga BBM akan naik, rasanya mungkin sama bagi sebagian besar
kita dan asumsinya : hidup akan tambah berat. Toh, nyatanya kita masih eksis
hingga hari ini dan tidakkah kita bisa mensyukurinya? Dua tahun silam warga
Jogja pernah merasakan gempa bumi terdahsyat sepanjang hayat. Banyak yang
terpuruk dan merasa kehilangan saat itu : kerabat yang wafat, rumah yang rusak,
pekerjaan, bahkan ketenangan hidup karena selalu khawatir bumi bakal berguncang
lebih kencang. Bagaimana kabar kita di Jogja saat ini? Bukankah kita sudah
bangkit dan jauh lebih nyaman kini, ketimbang dua tahun lalu hingga sekian bulan kemudian?

Memang
yang terbaik, pemerintah tak perlu
menaikkan harga BBM, apalagi jika ternyata masih ada alternatif solusi lainnya.
Namun bila tetap terjadi juga dan kita jadi sakit hati, maka tidak ada satupun
obat sakit hati kecuali dengan keikhlasan. Demikianlah kata sebuah pepatah
Arab. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan para hamba-Nya.
Selalu lihatlah sisi terang dari kehidupan (seburuk apapun itu), begitu menurut
Monty Phyton. Semoga kita selalu dapat berprasangka baik kepada-Nya.
Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya akan dicukupkanlah keperluannya.
Cukuplah Allah sebaik-sebaik penolong dan pelindung kita sebagai makhluk-Nya.
Amin.

Sejumlah Pertunjukan Menarik

Uncategorized No Comments »

Selama
kurun waktu dua minggu, pada bulan April hingga awal Mei 2008 lalu, sempat
kusaksikan sejumlah pertunjukan seni yang menarik dan layak menjadi catatan
tersendiri. Pentas Teater Tetas bertajuk ‘Republik Anthurium’ karya/sutradara
Ags.Arya Dipayana di Gedung Sositet TBY merupakan pertunjukan pertama yang
kulihat. Selama dua hari berturut-turut (22-23/4) kelompok teater dari  Jakarta itu pentas di
Jogja, setelah sebelumnya di Solo pun demikian. Dan selama dua hari itu pula,
dengan setia aku selalu hadir. Selain sebagai penghormatanku pada sang sutradara,
aku ingin menjalani pengalaman baru sebagai seorang penonton. Untuk itu, di
hari pertama aku melihat pertunjukan dari salah satu sisi panggung. Jadi dapat
kulihat kondisi para pemain sebelum tampil serta begitu hangatnya kebersamaan
segenap pendukung pentas, termasuk kru panggung dan pemusik. Selama pentas jadi
lebih kuhargai kerja keras para pemain, bagaimana ngos-ngosannya mereka setelah
mengeluarkan banyak energi di atas panggung, kemudian mereka sejenak dapat
mengatur nafas dengan tetap berkonsentrasi pada jalannya lakon, dan kembali
tampil dengan energi yang tetap terjaga. Tidak sekadar mesti menghafalkan
naskah, mereka juga harus memiliki kebugaran fisik yang luar biasa karena
banyak koreografi yang mesti mereka tampilkan pula. Sang sutradara-yang sempat
tampil hanya berolah gerak/tanpa dialog- kulihat dengan seksama terus-menerus
mengikuti anak-anak asuhannya beraksi di sisi panggung yang lain. Perlu
berbulan-bulan untuk mempersiapkan pementasan tersebut. Salut untuk kerja keras
segenap awak Teater Tetas. Pada hari kedua kusaksikan pertunjukan dari balkon
selatan bersama beberapa orang dan penonton lain yang mungkin mengisi 90% kursi
yang tersedia di gedung tersebut. Kutemui hal-hal yang berbeda ketika kulihat
pertunjukan seperti layaknya penonton biasa dari depan.

Ada koreografi menawan yang lebih utuh
kunikmati, juga penataan artistik dan cahaya yang minimalis, tapi enak
diilihat. Yang jelas ada hikmah yang bisa dipetik dari pentas teater itu. 

Minggu
malam(27/4) kuikuti acara Bincang-Bincang Sastra di ruang seminar TBY yang
menghadirkan pembacaan cerpen dan diskusi karya penulis Isti Wuryani. Yang
menarik adalah saat acara pembacaan cerpen. Setelah penulisnya membaca cerpen
pertama dengan cara konvensional, pada cerpen kedua seorang perupa bernama Bung
Cokro tampil berbeda. Ia menafsirkan cerpen dengan membuat sebuah lukisan,
dengan didampingi seorang model perempuan ayu bersahaja (yang katanya diambil spontan dari penonton) dan diiringi
petikan gitar akustik. Seorang aktor (Dinar Setyawan) kemudian bermonolog
menampilkan cerpen ketiga ‘Perempuan Bertato Naga’ dengan atraktif, interaktif,
dan sangat menghibur. Salut untuk Isti Wuryani dan segenap pendukung acara
malam itu. Selanjutnya Joni Ariadinata, sastrawan yang juga menjadi redaktur
majalah sastra Horison mengulas karya-karya Isti diikuti acara dialog
interaktif yang menambah wawasan berpikirku. Pernah menjadi niatku untuk
menyapa Bung Joni jika bisa bertemu dengannya. Apalagi sesudah tempo hari
cerpenku pernah dimuat di Horison. Maka seusai acara kusalami dia sembari
memperkenalkan diri. Ternyata Bung Joni cukup mengingat sosokku yang fotonya
terpasang di majalah yang ada cerpenku itu.

“Lho,
kok kamu kelihatan beda ya? Aku pikir kamu itu orang PKS,” kata Bung Joni. Aku
tersenyum dengan menjawab bahwa aku bukan seperti yang dipikirnya. Memang di
foto aku tampil dengan potongan rambut cepak, jenggot tipis, dan kemeja yang
dikancingkan sampai atas, ya pantas saja dikira aktivis partai Islam itu.
Sementara malam itu rambutku rada berantakan, tanpa jenggot, serta berjaket
hitam dan kaos saja.

“Ternyata
orang PKS bisa bikin cerpen bagus juga ya?” canda Bung Joni sebelum kami
berpisah. Yah, begitulah jika sudah menjadi penulis kawakan, dengan melihat
foto saja sudah mengimajinasikan sebuah cerita sendiri. Sayangnya aku lupa
minta nomor ponselnya karena bisa jadi ada seribu pertanyaan ingin kuajukan
padanya.

Pertunjukan
seni berikutnya adalah Pertunjukan Paduan Suara ‘Balada Pendidikan Nasional’
karya Ki Prijo Dwiarso di Balai Persatuan Tamansiswa Yogyakarta pada hari Sabtu,
3 Mei 2008. Acara tersebut dalam rangka memeringati Hari Pendidikan Nasional
dan mengenang Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional, pendiri
Tamansiswa, yang ternyata juga seorang seniman sejati. Kebetulan ada sejumlah
orang yang kukenal terlibat dalam acara tersebut, antara lain mbakku yang
menjadi salah satu pengiring lagu dan beberapa teman mudaku yang tampil
menyanyi solo. Tiga kelompok paduan suara tampil memukau, demikian pula
beberapa solis muda maupun yang dewasa. Dua ibu jari layak diacungkan pada
Cindy yang begitu percaya diri, suaranya jernih, nada tingginya sempurna,
penjiwaannya bagus, dan tampil cantik dengan kebaya hijaunya. Tyas dan
Khaleydia, dua penyanyi muda lainnya juga tampil bagus, tapi masih di bawah
Cindy yang mampu menunjukkan kedewasaannya malam itu. 

Teman Mengecewakan

Uncategorized No Comments »

Telanjur
sudah kejadian

Kusematkan
asa menyala

Kutaruh
percaya sepenuhnya

Padamu
teman yang bisa kuandalkan

Namun
malah kaujelmakan kecewa

Sekaligus
luka menganga

 

Sekali
dua kali masih dapat kumaklumi

Seraya
berharap kecewa itu segera terobati

Tapi
asaku belum jua sanggup kaupenuhi

Padahal
telah cukup sabar kunanti

 

Semoga
cukup aku yang kaukecewakan

Dan
tak mampu lagi memberi kepercayaan

Namun
bersiap sajalah selalu

Kelak
kau bakal lebih kecewa ketimbang aku

 

5-5-2008


(Lebih
baik kita memilih yang lain, jika yang kita pilih dahulu terus saja
mengecewakan kita. Setiap
kebaikan akan berbalas kebaikan dan setiap keburukan akan berbalas keburukan)


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in