Setelah
sempat dua kali terjadi di awal bulan ini, tiba-tiba hujan turun lagi pada hari
ke-21 malam. Kupikir saat ini sudah musim kemarau, karena sekian hari matahari
selalu bersinar ketika siang, dan bulan berteman bintang serta langit cerah
kala malam. Tapi mungkin hujan kembali diturunkan untuk mendinginkan hati yang
panas, karena beban kehidupan kita yang bakal kian berat sejak kepastian rencana
kenaikan harga BBM tempo hari. Mungkin juga ada hujan lagi supaya pikiran jadi
segar dan jernih, karena akhir-akhir ini pasti jadi ruwet, terus malah mumet.

Sekian
tahun lalu ketika harga BBM akan naik, rasanya mungkin sama bagi sebagian besar
kita dan asumsinya : hidup akan tambah berat. Toh, nyatanya kita masih eksis
hingga hari ini dan tidakkah kita bisa mensyukurinya? Dua tahun silam warga
Jogja pernah merasakan gempa bumi terdahsyat sepanjang hayat. Banyak yang
terpuruk dan merasa kehilangan saat itu : kerabat yang wafat, rumah yang rusak,
pekerjaan, bahkan ketenangan hidup karena selalu khawatir bumi bakal berguncang
lebih kencang. Bagaimana kabar kita di Jogja saat ini? Bukankah kita sudah
bangkit dan jauh lebih nyaman kini, ketimbang dua tahun lalu hingga sekian bulan kemudian?

Memang
yang terbaik, pemerintah tak perlu
menaikkan harga BBM, apalagi jika ternyata masih ada alternatif solusi lainnya.
Namun bila tetap terjadi juga dan kita jadi sakit hati, maka tidak ada satupun
obat sakit hati kecuali dengan keikhlasan. Demikianlah kata sebuah pepatah
Arab. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan para hamba-Nya.
Selalu lihatlah sisi terang dari kehidupan (seburuk apapun itu), begitu menurut
Monty Phyton. Semoga kita selalu dapat berprasangka baik kepada-Nya.
Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya akan dicukupkanlah keperluannya.
Cukuplah Allah sebaik-sebaik penolong dan pelindung kita sebagai makhluk-Nya.
Amin.