Akhir Mei lalu seorang
teman SMP-ku berduka. Ayahnya meninggal dunia dan hanya selisih 5 bulan dari
saat ibunya wafat. Pastilah sebuah duka yang dalam dirasakan temanku itu.
Apalagi sebelum ayah kandungnya wafat, salah satu mertuanya pun pergi selamanya
April silam. Hanya dapat kudoakan, semoga mereka yang telah dipanggil Ilahi
mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan untuk temanku, semoga dia ikhlas,
sabar, dan kuat menghadapi cobaan berat tersebut. Amin. Setelah pemakaman ayah
temanku itu, aku berziarah dan berdoa di makam Ibu. Ya Allah, semoga Ibu hamba
pun baik-baik saja di alam sana. Amin. Saat kupeluk temanku untuk pamit, kukatakan bahwa kami sekarang bernasib
sama, sudah tak punya orang tua lagi. Rada terharu juga aku saat
mengucapkannya. Tapi hidup tentu terus berjalan, mestinya tak masalah dengan
itu semua, sepanjang kita tetap yakin pada petunjuk bimbingan-Nya senantiasa.
Awal Juni ada kabar gembira
dari teman-teman SMA-ku. Di hari yang sama dua temanku mendapatkan karunia
keturunan. Bagi temanku yang satu merupakan anak pertama, sementara untuk yang
lain menjadi anak keduanya. Sabtu pekan lalu, aku dengan dua orang teman yang
lain menengok teman-teman kami yang berbahagia. Hanya ada sukacita yang
tercipta ketika kami berjumpa. Alhamdulillah. Semoga saja anak-anak mereka
menjadi putri-putri yang shalihah dan menambah kebahagiaan hidup keluarganya.
Amin.
Di sisi yang lain,
kutemukan biodata seorang teman SMA-ku di internet setelah coba kuketik namanya
di www.google.com. Sementara teman-teman
SMA-nya tak ada yang tahu kabarnya kini, temanku itu ternyata sangat eksis di
bidangnya sebagai pakar ilmu komputer. Selain itu dia pasti bahagia pula hidup
bersama suami dan kedua anaknya. Salut dan selamat buat ibu kandidat doktor
yang di saat SMA selalu bersikap ramah padaku itu.