Kompleksitas Agustus

Uncategorized 1 Comment »

Ternyata cukup kompleks apa yang telah kulewati sepanjang bulan Agustus 2008 ini. Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir menambah ragam peristiwa dalam hidupku. Hari Minggu menjelang siang (24/8) aku bertemu dengan sejumlah teman baru yang selama ini aktif di http://kemudian.com di seputar Vredeburg. Di tempat yang sama tengah berlangsung Festival Kuliner Yogyakarta yang juga dihadiri oleh Bondan Winarno, budayawan yang menjadi presenter acara kuliner paling kondang di Indonesia saat ini. Begitu sarat orang di Vredeburg saat itu. Teman-teman baruku – djogdja kemudianers – ternyata jauh lebih muda ketimbang aku. Untunglah datang Mr.Jay, seorang eksekutif yang sebaya denganku. Jadi aku merasa tidak tua sendiri di antara Benz, Toni, Yoyok, Dilla, dan Naela. Terima kasih buat teman-teman atas perjumpaan pertama kita kemarin. Semoga masih bakal ada pertemuan selanjutnya yang lebih meriah dan bermakna bagi kita. Sorenya aku sempat ngobrol dengan Herlinatiens dan dikasih buku ‘Nabi Tanpa Wahyu’ yang selama ini kukira hanya dipinjamkannya. Trims.

Senin malam kuikuti rapat rutin di masjid lingkungan tempat tinggalku. Selasa malam (26/8) aku nonton “Momotaro” persembahan Teater Gamelan Marga Sari dari Osaka Jepang di TBY. Sebuah pertunjukan yang menarik dan sangat layak diapresiasi. Sebelumnya aku sempat ngobrol dengan teman-teman SMA via YM, juga ketemu mbakku dan ponakan-ponakan kecilku di rumahnya. Tapi aku tak bertemu sahabatku yang akan kuajak nonton “Momotaro” karena sedang mengantar anaknya yang sedang sakit. Cuma kutemui istrinya dan anak perempuannya yang masih bayi.
Rabu malam (27/8) aku datang ke sebuah tempat baru – Yayasan Umar Kayam – mengikuti cara ngobrol bareng Ayu Utami. Cuma Mr.Jay teman yang kutemui, padahal sebelumnya kuduga bakal kutemui teman-temanku di situ. Namun malam itu aku bisa ketemu lagi dengan saudara-saudaraku terdekatku di Warungboto dan bisa makan enak pula. Cukup banyak kebersamaan yang kurasakan pula di bulan Agustus. Selain membahagiakan hati, pastinya juga bermakna positif bagiku, kusyukuri pula adanya.

Sudah lama aku tak mengutak-atik foto menjadi wallpaper. Aku tertarik lagi melakukannya dan jadilah dua wallpaper anyar bergambar Dian Sastro. Hasilnya bisa dilihat http://wallpapersoflou.blogspot.com. Oya, sejak Juli lalu telah kupasang empat lagu karyaku di http://luhursatya.multiply.com/music. Silakan bagi siapa saja yang sudi menyimaknya. Mohon maklum jika kurang baik hasilnya, baik lagunya, pengiringnya, suara penyanyinya, maupun kualitas rekamannya.

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Uncategorized No Comments »

Setiap Agustus tiba, selalu saja ada yang berbeda dalam keseharian kita. Ada acara kerja bakti membersihkan lingkungan, lalu memasang bendera merah putih dan umbul-umbul bersama-sama. Ada pula banyak lomba yang melibatkan seluruh warga dalam beragam usia. Selalu ada saat-saat menggembirakan, seiring rasa syukur kita pada Ilahi atas sebuah nikmat kemerdekaan. Tapi juga selalu ada suara-suara kritis bertanya, benarkah kita benar-benar sudah merdeka? Jawabannya kembali pada masing-masing warga bangsa, yang pasti tak sama satu dengan lainnya. Memang tidak pernah bisa puas merupakan hal yang manusiawi. Sudah begitu banyak anugerah Allah swt, bukannya disyukuri, bisa jadi kita malah menjadi orang yang kufur. Memang hidup di dunia tentu saja senantiasa sarat dengan masalah yang tiada habisnya.

Tapi dengan segala kerusakan, kebobrokan, dan ketidakberesan yang terjadi di negara kita, mestinya kita masih bisa mensyukuri bahwa setidaknya tiada desing peluru dan ledakan bom di sekitar kita. Sementara untuk saudara-saudara kita di Palestina, hal itu masih menjadi makanan sehari-hari mereka hingga kini. Tentu masih banyak kenikmatan lainnya - dampak positif sebuah kemerdekaan - yang harus selalu disyukuri. Cara kita bersyukur adalah dengan terus berupaya menjadikan hari ini lebih baik daripada kemarin, dan hari esok mesti lebih apik ketimbang hari ini. Ketika sadar memiliki sesuatu, maka kita bisa berbagi pada saudara, teman, atau tetangga kita yang paling dekat. Sekadar berbagi senyuman atau cerita kebahagiaan pun bisa menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Marilah kita selalu berdoa, berkarya nyata, berpikir positif, dan memelihara harapan bagi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Kata Tagore : Hidup adalah tantangan, hadapilah. Hidup adalah anugerah, terimalah. Hidup adalah petualangan, berjuanglah. Hidup adalah tragedi, tuntaskanlah. Hidup adalah tugas, laksanakanlah. Hidup adalah cita-cita, capailah. Hidup adalah kesempatan, ambillah. Hidup adalah misteri, singkapkanlah. Hidup adalah kasih sayang, bergembiralah. Hidup adalah keindahan, bersyukurlah. Hidup adalah jiwa, sadarilah. Hidup adalah teka-teki, pecahkanlah. Semoga Allah swt selalu meridhai kita. Amin. Dirgahayu Indonesia !

Tulisan ini menjadi salah satu materi Buletin Tamtama edisi ke-7. Versi digitalnya dapat disimak di www.buletintamtama.wordpress.com

Cerita Sebuah Perjalanan

Uncategorized No Comments »

Rabu pekan lalu (6/8) kutempuh sebuah perjalanan di atas roda empat yang cukup jauh bersama saudara-saudaraku. Ratusan kilometer, belasan kota, mendung, panas, hujan, pagi, siang, petang, malam tuntas dilewati dalam sehari. Kami berangkat jam 6.30 pagi dan sampai di Jogja lagi sekitar jam satu dini hari. Hari itu kami pergi ke Brebes, setelah hari sebelumnya dikabari bahwa ada kerabat kami yang wafat. Beliau adalah Bu Yati, adik sepupu almarhum Bapak yang pernah menjadi pengasuhku dan kakakku ketika kami masih sangat kecil. Bu Yati adalah sosok perempuan lugu yang selalu tulus dan begitu baik hati. Beliau juga seorang yang sangat tangguh, sabar, dan tegar, kendati tubuhnya kecil. Ketika masih muda, Bu Yati sudah ditinggal meninggal suaminya. Setelah beranjak tua, kelima anak lelakinya justru lebih dahulu dipanggil Ilahi. Tak terbayang begitu berat cobaan-Nya untuk seorang Bu Yati sesungguhnya, yang ternyata tetap tenang menjalani itu semua. Sampai akhirnya ajalnya tiba pada sebuah senja pekan lalu. Semoga Allah swt menempatkannya di tempat yang terbaik, menerima segala amal kebaikannya, dan mengampuni segenap dosa kesalahannya. Amin.

Menyapa Andrea Hirata dan Riri Riza

Kabar  Tagged , , , , , , No Comments »

Sesudah dari jauh belaka melihat sosok Sri Sultan HB X, Garin Nugroho, dan
Jajang C Noer, hampa asaku bertemu orang terkenal lainnya. Tapi
beberapa saat kemudian, ketika aku tengah bercengkrama dengan kakakku
dan anak-anaknya, malah ada Andrea Hirata tak jauh di belakangku.
Setelah dia selesai menandatangani trilogi Laskar Pelangi milik
penggemarnya, aku pun menyalami dan menyapanya, “Mas Andrea ya?”
Dengan ramah dia menjawab sapaku, “Ya. Nonton film, yuk.” Sayang,
aku tak bisa memenuhi ajakannya. Tapi aku tetap terkesan Sabtu sore
(9/8) itu. Baru malam sebelumnya kulihat penulis hebat itu di Kick
Andy. Tak kuduga bisa segera menjumpainya di alam nyata.

Senin malam (11/8) aku sedang bertugas mengambil jimpitan di lingkungan
tempat tinggalku, ketika di seberang jalan kulihat sosok yang tak
asing dalam dunia sinema Indonesia. Langsung saja kusapa dia, “Riri
Riza ya?” Lelaki keriting berkaca mata itu menyahutku, “Iya…”
Hanya sempat kutanya tidurnya di mana, ternyata di hotel sebelah
rumah tetanggaku. Selanjutnya kulihat dia duduk menekuni laptopnya di
sebuah kafe, tak jauh dari tempat kami bertemu.

Sejujurnya, banyak hal yang ingin kutanyakan pada Andrea Hirata dan Riri Riza, tapi tak tercetus ketika aku menyuarakan kata. Terlalu mengejutkan bagiku
bertemu mereka tanpa kusangka-sangka. Tapi aku setidaknya telah
mengerti, betapa mereka dengan kehebatannya yang membuat mereka
dipuja-puji banyak orang, ternyata tetap rendah hati, ramah, dan
membumi. Buktinya, mereka sudi menjawab sapa dari orang biasa, yang
pasti tak mereka kenal sama sekali. Aku belum sanggup menerjemahkan,
pertanda apakah aku bisa menyapa Andrea Hirata dan Riri Riza dalam
sekian hari saja? Lalu, kira-kira siapa lagi orang terkenal yang
bakal kutemui lagi dan kusapa jua mereka? Aku mesti latihan berpikir
lebih cepat supaya mampu mendapatkan kata-kata yang bermakna dari
siapa saja orang terkenal yang kujumpai nanti. Rabu siang (13/8)
kemarin kulihat film karya Djenar Maesa Ayu, lantas sejenak mengikuti
obrolan santai bersama sang sutradara sekaligus penulis cerita itu.
Tapi aku sekadar menyimaknya dan tak menyapanya.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in