Sebuah Cerita dan Sejumlah Hikmah

Curhat  Tagged , , , , No Comments »

Menebar Benci di Saat Fitri (cerita 100 kata)

Selayaknya pasti ketika tiba 1 Syawal lalu, hati kita bertaburan cinta serta kasih sayang. Jadi tiada yang susah untuk meminta dan memberi maaf atas segala salah maupun khilaf. Maka sungguh aneh dan tak lazim ketika ada seseorang yang justru mengeluarkan kata-kata yang melukai hati. Ironisnya, pada saat semua insan sedang saling memaafkan dan melupakan kesalahan silam, justru dilakukannya hal itu.

Ketika sebuah kerja keras sekian bulan dikatakan sebagai hal yang tak bermanfaat, siapa yang akan gembira dengan sikap seperti itu? Namun bisa jadi itulah sebentuk ujian, selapang apa hati sejatinya. Yang terbaik tetap memaafkan, biarkan luka itu sembuh dengan sendirinya.

Tidak Menyakiti dan Menjaga Perasaan

Ketika kusimak penampilan Slamet Gundono di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada Jumat terakhir Ramadhan (26/9) lalu, ada banyak hikmah yang disampaikan. Salah satunya adalah pesan guru Kang Slamet saat masih di pesantren. Menurut sang guru, hanya orang yang tidak pernah menyakiti orang lain yang boleh berharap mendapatkan lailatul qadar (malam kemuliaan). Dengan kata lain, tidak akan mulia seseorang jika ia pernah menyakiti orang lain. Lanjut Kang Slamet, saat itu ia menanggapinya dengan bilang tidak mungkin. Bahkan orang diam pun bisa menyakiti orang lain tanpa sengaja. Tapi bagaimana pun kita mesti tetap berusaha untuk tidak pernah menyakiti siapa pun. Lebih baik lagi jika kita selalu mampu menjaga perasaan orang lain, minimal orang-orang terdekat kita sendiri. Demikianlah salah satu pesan terakhir yang tersirat sebelum ibuku wafat tempo hari. Jadi ada hubungannya antara cerita di atas, pesan guru Kang Slamet, dan pesan terakhir ibuku.

Kendati kita merasa sudah menjadi orang baik, tapi tetap saja pasti ada hal-hal yang salah di mata orang. Di sisi lain, bahkan orang-orang baik yang kita kenal pun pernah menyakiti hati kita, entah mereka sengaja atau tidak. Meminta maaf itu baik, tapi memberi maaf itu lebih mulia. Kita mestinya akan mudah memaafkan karena selalu melihat keterbatasan diri kita pada manusia lain, sadar bahwa insan selalu punya keterbatasan, tiada yang sempurna. Ingatlah kebaikan orang lain dan lupakan keburukannya kepada kita. Ingatlah keburukan kita pada orang lain dan lupakan kebaikan kita kepadanya. Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang pemaaf, toleran, dan memiliki empati kepada siapa saja.

Reuni SMA

Kabar  Tagged , , , , 2 Comments »

Akhirnya terwujudlah pertemuan kembali anak-anak lulusan SMA 5 Yogyakarta pada sebuah tahun 90-an di hari Minggu (12/10) kemarin. Memang tak sebesar yang direncanakan sekitar setengah tahun silam. Tapi tetap saja hal itu menyenangkan dan mesti disyukuri. Apalagi rencana besar itu sempat terhenti di simpang jalan, gara-gara sang pelopor didera masalah pribadi (yang tak kami pahami), lantas menghilangkan jejaknya dari teman-teman SMA-nya. Tanpa dirinya, masih ada segelintir orang yang terus bersemangat untuk melangkah, hingga akhirnya Tuhan memperkenankan berlangsungnya acara kami. Sekitar 40 orang saja yang hadir. Cukup mengejutkanku bisa ketemu beberapa teman yang tak terduga. Ada yang sejak lulus SMA, baru kemarin kujumpai mereka lagi. Acaranya pun lumayan gayeng, terutama ketika kami maju bergiliran sesuai kelas 3 masing-masing. Yang terang, suasana sukacita begitu mewarnai perjumpaan kami. Segala duka pun hengkang saat melepas kerinduan. Di awal acara kami menyanyikan lagu Mars Puspanegara dan ternyata masih ada beberapa teman yang hapal. Salut buat teman-teman!

Sebenarnya sekitar 10 tahun lalu sebagian di antara kami pernah pula berkumpul bersama. Uniknya, tempat pertemuan itu tak jauh dari tempat perjumpaan kami kemarin dan sekitar 40 orang pula yang datang. Sayangnya, reuni kecil itu tak ada kelanjutannya, terhenti begitu saja. Semoga reuni kecil tahun ini tak bernasib sama. Insya Allah kami akan bertemu kembali, bahkan semoga dengan teman-teman yang lebih banyak lagi kelak. Dan tidak sekadar menjadi ajang mengenang masa silam, tapi ada hal-hal positif yang bisa menjadi bagian dari masa depan bersama. Paling tidak, ada sebagian di antara kami yang selalu berkoneksi via internet hampir setiap hari. Jadi pastilah tetap terjalin komunikasi yang positif.

Ada pesan berharga dari Purwanta, mantan ketua OSIS angkatan kami yang sekarang menjadi jaksa ‘gaul’. Benar katanya bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih bermartabat ketimbang pekerjaan lainnya, karena apa pun yang kami kerjakan sekarang pasti bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadi tiada alasan untuk berkecil hati, merasa berbeda, lalu enggan bertemu teman lama. Bagiku, justru persamaan sebagai orang-orang yang pernah menjadi anggota sebuah komunitas di masa lalu itu yang selalu menarik untuk diikuti. Tak peduli bahwa ada sejuta perbedaan, yang sejatinya sama sekali bukan masalah. Buat teman-teman : meski kita kembali berpisah, semoga pertemanan kita tak lagi lekang. Semoga masih ada waktu yang bakal mempertemukan kita lagi. Salam Puspanegara!

Sehabis Ramadhan Kini

Curhat  Tagged , , , , No Comments »

Tuntas sudah kini 30 hari berlangsungnya bulan suci. Semoga segenap amal ibadah yang kita lakukan saat Ramadhan menjadi perkenan Allah swt dan tiada yang sia-sia. Semoga segala dosa kita telah mendapatkan ampunan-Nya jua. Sementara kita sesama insan pun semoga telah mampu saling memaafkan. Syukur alhamdulillah, rasanya ada beberapa kemajuan terjadi padaku -ketimbang setahun silam- karena dapat lebih kumanfaatkan kesempatan yang tersedia. Meski di sisi lain masih terdapat pula kekurangan dan hal-hal yang belum maksimal. Sejumlah rezeki tak terduga yang kuterima menjadi kesan tersendiri bagiku Ramadhan tahun ini.

Salah satu kelemahan hidup kita adalah kegagalan menangkap makna. Bagaimana kita memaknai Idul Fitri yang kerap disebut sebagai hari kemenangan itu? Sudahkah kita kembali fitrah dalam arti sesungguhnya? Mestinya di bulan Syawal ini terjadi peningkatan kualitas hidup, setelah selama sebulan kita berpuasa dan memperbanyak amal shalih. Namun sungguh tak mudah untuk menjaga konsistensi ibadah sehabis Ramadhan, dengan tetap terus menapakkan jejak kebaikan dalam perjalanan hidup ini. Tampaknya kita selalu tergoda untuk kembali pada rutinitas seperti sebelum datangnya bulan istimewa itu lagi. Memang tiada lagi pahala yang berlipat ganda seperti bulan lalu. Tapi bukankah setiap amal kebaikan kita tetap selalu dicatat oleh para malaikat-Nya, sebagaimana dosa kesalahan kita pun demikian pula? Sebenarnya renungan ini paling layak untuk diriku yang mencoba terus introspeksi. Menjadi niat dan tekadku untuk menjalani hari-hari pasca Ramadhan dengan lebih apik ketimbang sebelum bulan suci. Semoga Allah swt meridhai niat baikku ini. Mohon maaf dengan segenap jiwa dan setulus hati.

Selamat Idul Fitri 1429 H

Uncategorized  Tagged , No Comments »


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in