Akhirnya terwujudlah pertemuan kembali anak-anak lulusan SMA 5 Yogyakarta pada sebuah tahun 90-an di hari Minggu (12/10) kemarin. Memang tak sebesar yang direncanakan sekitar setengah tahun silam. Tapi tetap saja hal itu menyenangkan dan mesti disyukuri. Apalagi rencana besar itu sempat terhenti di simpang jalan, gara-gara sang pelopor didera masalah pribadi (yang tak kami pahami), lantas menghilangkan jejaknya dari teman-teman SMA-nya. Tanpa dirinya, masih ada segelintir orang yang terus bersemangat untuk melangkah, hingga akhirnya Tuhan memperkenankan berlangsungnya acara kami. Sekitar 40 orang saja yang hadir. Cukup mengejutkanku bisa ketemu beberapa teman yang tak terduga. Ada yang sejak lulus SMA, baru kemarin kujumpai mereka lagi. Acaranya pun lumayan gayeng, terutama ketika kami maju bergiliran sesuai kelas 3 masing-masing. Yang terang, suasana sukacita begitu mewarnai perjumpaan kami. Segala duka pun hengkang saat melepas kerinduan. Di awal acara kami menyanyikan lagu Mars Puspanegara dan ternyata masih ada beberapa teman yang hapal. Salut buat teman-teman!

Sebenarnya sekitar 10 tahun lalu sebagian di antara kami pernah pula berkumpul bersama. Uniknya, tempat pertemuan itu tak jauh dari tempat perjumpaan kami kemarin dan sekitar 40 orang pula yang datang. Sayangnya, reuni kecil itu tak ada kelanjutannya, terhenti begitu saja. Semoga reuni kecil tahun ini tak bernasib sama. Insya Allah kami akan bertemu kembali, bahkan semoga dengan teman-teman yang lebih banyak lagi kelak. Dan tidak sekadar menjadi ajang mengenang masa silam, tapi ada hal-hal positif yang bisa menjadi bagian dari masa depan bersama. Paling tidak, ada sebagian di antara kami yang selalu berkoneksi via internet hampir setiap hari. Jadi pastilah tetap terjalin komunikasi yang positif.

Ada pesan berharga dari Purwanta, mantan ketua OSIS angkatan kami yang sekarang menjadi jaksa ‘gaul’. Benar katanya bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih bermartabat ketimbang pekerjaan lainnya, karena apa pun yang kami kerjakan sekarang pasti bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadi tiada alasan untuk berkecil hati, merasa berbeda, lalu enggan bertemu teman lama. Bagiku, justru persamaan sebagai orang-orang yang pernah menjadi anggota sebuah komunitas di masa lalu itu yang selalu menarik untuk diikuti. Tak peduli bahwa ada sejuta perbedaan, yang sejatinya sama sekali bukan masalah. Buat teman-teman : meski kita kembali berpisah, semoga pertemanan kita tak lagi lekang. Semoga masih ada waktu yang bakal mempertemukan kita lagi. Salam Puspanegara!