Menyambung Riwayat
Kabar Tagged angin kencang, kampus, puting beliung, riwayat, UGM November 12th, 2008Semenjak sempat membuat porak poranda sebuah kawasan di tengah kota, tak terdengar lagi riwayatnya di sini. Sekadar menjadi bagian kecil halaman koran atau cuplikan sejenak di televisi barangkali, karena ia singgah di desa dan pinggir kota belaka.
Sesudah hampir dua tahun berselang, hadirlah kembali sang puting beliung di tempat yang tak terlampau jauh dari yang dulu. Sekejab badai pun datang, mengoyak kedamaian tanpa permisi. Telah banyak perubahan pemandangan yang terjadi, seusai ia pergi entah ke mana lagi. Tempat yang di masa lalu terkenal sebagai ‘kampus kerakyatan’ – tapi dalam sekian tahun terakhir seolah menjadi ‘kampus kekayaan’ – itu pun berantakan. Entah apa saja yang terlintas di pikiran semua orang setelah itu, sangat beragamlah pastinya.
Yang jelas, si angin kencang telah menyambung riwayatnya kembali dengan Yogyakarta.
(tentang peristiwa 7 November 2008 di UGM dan sekitarnya)

November 28th, 2008 at 4:05 am
Wah saya juga ada cerita nih seputar puting beliung.
Alkisah ketika saya sedang mengajar agama di STAH Cinere, hujan deras sekali mengiringi jalannya pelajaran. Saya pikir kilat dan guntur itu bagian yang terburuknya, ternyata menjelang pertengahan pelajaran keadaan menjadi semakin parah.
Sewaktu saya sedang menjelaskan mengenai pentingnya filsafat diatas ritual agama, angin badai mulai menabrak kaca-kaca dan pintu kelas, sambil berusaha meningkatkan suara dan melawan kencangnya angin, saya berusaha profesional meneruskan pelajaran.
Tetapi melihat dahan-dahan berjatuhan, seng berterbangan, dan alarm mobil-mobil mulai bersautan. Sebagian mahasiswa saya mulai memekik dan mengucap mantra. Kami semua saling berpegangan tangan dan saling menenangkan diri.
Di dalam hati saya terlintas, mungkin Tuhan marah karena saya terlalu sombong dengan berkata bahwa ritual itu terlalu sekunder dibandingkan dengan filsafat. Intinya mungkin Tuhan senang melihat kita berdoa dibandingkan kita berdebat filsafat.
Hahaha. Mungkin saja itu hanya perasaan yah, karena kita sungguh kecil bila dibandingkan dengan kemarahan alam.
Tetapi untuk jaga-jaga saja, saya kalau sedang ceramah berusaha keras untuk tidak mengecilkan makna suatu ritual, takut kesamber puting beliung lagiiiiiii….
Hihihihi
Salam dari Jakarta.
December 2nd, 2008 at 9:33 am
Wah, pengalaman yang menakjubkan dan hikmahnya juga luar biasa. Trims buat Saras, sudah berbagi cerita di sini.