Semenjak sempat membuat porak poranda sebuah kawasan di tengah kota, tak terdengar lagi riwayatnya di sini. Sekadar menjadi bagian kecil halaman koran atau cuplikan sejenak di televisi barangkali, karena ia singgah di desa dan pinggir kota belaka.

Sesudah hampir dua tahun berselang, hadirlah kembali sang puting beliung di tempat yang tak terlampau jauh dari yang dulu. Sekejab badai pun datang, mengoyak kedamaian tanpa permisi. Telah banyak perubahan pemandangan yang terjadi, seusai ia pergi entah ke mana lagi. Tempat yang di masa lalu terkenal sebagai ‘kampus kerakyatan’ – tapi dalam sekian tahun terakhir seolah menjadi ‘kampus kekayaan’ – itu pun berantakan. Entah apa saja yang terlintas di pikiran semua orang setelah itu, sangat beragamlah pastinya.

Yang jelas, si angin kencang telah menyambung riwayatnya kembali dengan Yogyakarta.

(tentang peristiwa 7 November 2008 di UGM dan sekitarnya)