Ketika Langit Malam Tampak Istimewa di Yogyakarta
Kabar April 11th, 2009Semula tiada niatku melihat apa yang terhampar di langit tadi malam. Namun bersama saudara-saudaraku tercinta, justru tampaklah pemandangan yang tak biasa di indra pandang kami semua. Rembulan menjelang purnama -yang sedang tak begitu terang cahayanya- laksana berada persis di tengah-tengah cincin raksasa yang serupa awan, karena putih warnanya. Ternyata di antara kami tiada yang mengerti apa yang sedang terjadi, bahkan namanya apa juga tak tahu. Yang terang, riang hati kami semua memandang dan mengagumi indahnya langit malam. Dalam hati aku bersyukur memuji asma-Nya.
Aku tak yakin banyak orang yang seberuntung kami menikmati salah satu mahakarya Ilahi itu. Maka kukabari sejumlah teman, sekadar ingin berbagi sukacita. ”Coba lihat bulan malam ini, ada fenomena unik,” begitu bunyi pesanku. Seorang teman langsung meneleponku, tak terjawab, jadi langsung kutelepon balik. Kutanya apakah itu, menurutnya hal itu fenomena alam biasa, seperti juga pelangi. Ada teori fisika yang bisa menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi mohon maaf, aku tidak paham pelajaran itu, Mas…hahaha… Tapi dengan bijak dia berpesan supaya aku memerhatikan fenomena itu dan pasti ada sesuatu yang lain yang akan terlihat. Semoga beliau bisa menjelaskannya lebih gamblang setelah membaca tulisanku ini.
Temanku yang lain merespons bahwa dia telah melihatnya dan merasakan indahnya pula. Sama denganku, dia juga belum pernah menjumpainya, meski kata temannya biasa kalau pas musim hujan. Bahkan dia ikut mengumumkan apa yang dilihatnya ke banyak orang. Sayang, mereka yang di luar Jogja tidak mengalami langit malam yang cerah ceria. Sayangnya lagi, temanku yang lain juga tidak bisa turut menyaksikan wajah rupawan sang malam.
Temanku tadi lalu bercerita bahwa menurut mbah depan rumahnya, biasanya Sultan akan memberitahu sebuah hal penting atau Indonesia bakal dapat pemimpin yang bisa mengayomi rakyat. Tapi apa hubungannya ya?
Kata Paulo Coelho, segala sesuatu di dunia adalah pertanda. Dan kita harus menanggapi pertanda. Barangkali sekadar pertanda bahwa masih banyak karunia alam-Nya yang kita ternyata belum tahu, lalu bersyukurlah kita menanggapinya. Tapi mungkin saja ada pertanda lainnya, seperti kata orang tua yang melihat peristiwa itu dengan mata hati dan jiwanya. Satu lagi kata Coelho, ternyata hal-hal sederhana dalam hidup memang paling luar biasa. Hanya orang bijak yang dapat memahaminya. Yah, semoga kita semua dapat menjadi orang-orang yang bijaksana.
Terima kasih bagi saudara-saudara yang menemaniku dan teman-teman yang merespons pesanku semalam, juga bagi para pembaca tulisan bersahajaku ini.
Yogyakarta, 8 April 2009