Pelajaran dari Keponakan Kecilku

Curhat  Tagged , , No Comments »

Ada satu pelajaran berharga kudapatkan dari Emal, keponakan kecilku yang termuda. Menurut cerita ibunya –yang juga sempat kusaksikan sendiri- setiap kali anak ketiganya itu sakit, ternyata bocah 16 bulan itu tetap selalu tersenyum. Keceriaannya tak sirna, kendati kondisi tubuhnya sedang kurang baik. Melihat hal itu, Iyaz kakaknya heran dan bertanya pada ibunya. Mendapat pertanyaan seperti itu, kakakku malah jadi menasihati anak pertamanya itu supaya bisa bersikap seperti adiknya. Iyaz sendiri jika sedang sakit selalu jadi rewel bukan main. Padahal dalam kesehariannya bocah 9 tahun itu sangat pendiam. Adik ceweknya -namanya Puti- yang tomboy dan biasanya sangat aktif bergerak, kalau pas sakit malah jadi pendiam. Iyaz sepertinya bersedia mencoba mengikuti sikap positif adiknya.

Jadi, marilah kita berusaha untuk tetap tersenyum, apa pun yang sedang terjadi. Terutama justru jika kita sedang merasa sakit, susah, gundah, atau berduka. Niscaya segala sesuatunya jadi terasa lebih ringan, bahkan indah, dan pasti bisa segera membaik nantinya. Memang hal itu sebuah nasihat yang sudah lama pernah kudengar. Tapi aku justru diingatkan kembali oleh keponakan kecilku yang masih begitu minimal mengenal dunia, yang belum lama dihuninya itu. Semoga seluruh keponakanku mampu menjadi orang-orang yang jauh lebih baik ketimbang pamannya ini. Amin.

Ada Senyuman di Langit Malam

Puisi  Tagged , , , , No Comments »

Tatkala sang bulan sabit melengkungnya

berbeda, tak di sebelah kiri atau kanan

sebagaimana layaknya tertampak

Sementara di atasnya bercengkrama

sepasang bintang belaka

bersisian, tiada temannya

Maka lihatlah …

Ada senyuman di langit malam

Memaksa kalbu secara sukarela

turut tersenyum pula

menyimaknya

Keindahan pun menjelma

(tentang 1 Desember 2008 malam)

Raksasa Buruk Muka dan Bidadari Mungil

Kabar  Tagged , , , No Comments »

Bukan tentang Syech Puji dan Luthfiana Ulfa

Tulisan di bawah ini kutulis awal September silam, sekadar mengenang apa pernah terjadi di kampusku jaman dulu. Belum ada berita menghebohkan soal pernikahan Syech Puji dengan bocah perempuan bernama Lutfiana Ulfa ketika aku menulisnya. Tapi ketika berulang kali kuikuti berita itu di media, lambat laun terbayanglah kembali kalimat yang pernah menjadi judul cerita 100 kataku itu. Apalagi sepupuku pernah pula berkomentar bahwa dia jadi ingat cerita Timun Emas yang mau dikawini si Buto Terong ketika melihat liputannya di televisi. Tapi cerita Raksasa Buruk Muka dan Bidadari Mungil versiku begitu berbeda dengan kisah nyata yang menjadi berita nasional itu. Btw, bagaimana kabar terakhir Ulfa, sang bidadari mungil sejati? Semoga dia dapat kembali menjalani kehidupannya sebagaimana mestinya, yang terbaik baginya sesuai usianya. Maaf, saya tidak tertarik dengan riwayat si raksasa selanjutnya.

Raksasa Buruk Muka dan Bidadari Mungil

Kadang pengibaratan yang dilakukan orang memang keterlaluan, baik sebagai penghinaan atau sanjungan. Demikianlah yang terjadi pada dua sejoli Aren dan Nintya. Aren yang tubuhnya tinggi besar, suaranya berat, tak pernah tersenyum, dan wajahnya sarat jerawat, sepertinya layak saja memiripkannya dengan raksasa buruk muka. Padahal Nintya adalah perempuan kecil yang lembut, parasnya begitu manis, ramah pula pada siapa saja. Tiada yang keberatan jika dia diberi julukan bidadari mungil. Secara kasat mata tampaklah mereka sebagai pasangan yang tak serasi sama sekali. Namun ada sesuatu yang mereka miliki bersama dan orang tak memahaminya. Sungguh mujur si raksasa dapat berbagi cinta dengan sang bidadari. (020908)

Menyambung Riwayat

Kabar  Tagged , , , , 2 Comments »

Semenjak sempat membuat porak poranda sebuah kawasan di tengah kota, tak terdengar lagi riwayatnya di sini. Sekadar menjadi bagian kecil halaman koran atau cuplikan sejenak di televisi barangkali, karena ia singgah di desa dan pinggir kota belaka.

Sesudah hampir dua tahun berselang, hadirlah kembali sang puting beliung di tempat yang tak terlampau jauh dari yang dulu. Sekejab badai pun datang, mengoyak kedamaian tanpa permisi. Telah banyak perubahan pemandangan yang terjadi, seusai ia pergi entah ke mana lagi. Tempat yang di masa lalu terkenal sebagai ‘kampus kerakyatan’ – tapi dalam sekian tahun terakhir seolah menjadi ‘kampus kekayaan’ – itu pun berantakan. Entah apa saja yang terlintas di pikiran semua orang setelah itu, sangat beragamlah pastinya.

Yang jelas, si angin kencang telah menyambung riwayatnya kembali dengan Yogyakarta.

(tentang peristiwa 7 November 2008 di UGM dan sekitarnya)

Hal Signifikan di Awal Bulan

Kabar  Tagged , , , , , , , 1 Comment »

Di hari pertama bulan kesebelas, rumah yang selama 22 bulan terakhir hanya berpenghuni tetap dua orang, akhirnya bertambah satu personil lagi. Elang, adik sepupuku jadi pindah dari tempat kosnya untuk menemani kakaknya yang kesepian. Kehadirannya tentu memberi warna yang berbeda dalam hidup kami dan pastilah kusyukuri hal itu. Apalagi ketika dia minta tolong mas iparku mengangkut barang-barangnya, maka mbakku dan ketiga anaknya jadi datang menyemarakkan malam Minggu yang hujan kemarin. Selanjutnya, aku berkesempatan merasakan menjadi seorang kakak yang sejati. Maklumlah, aku anak bungsu yang hanya memiliki adik sepupu, yang selama ini sesekali saja kujumpai mereka. Kini ada satu di antara mereka yang tinggal serumah denganku dan pastinya setiap hari kutemui.

Hari kedua November kualami lagi sebuah pengalaman baru. Aku menjadi bagian dari sebuah pementasan operet ‘Pangeran yang Selalu Bahagia’ persembahan AFC TBY yang berlangsung di concert hall Taman Budaya Yogyakarta. Seperti setahun sebelumnya di gedung sositet, posisiku memang hanya di samping panggung. Jadi penonton tentu tak bakal melihat sosokku. Tugasku seperti biasa mengiringi anak-anak menyanyi, tapi ada tugas tambahan untukku mengiringi anak-anak menari. Sayang, pada tarian pertama suara kibor yang kumainkan tak karuan tanpa kutahu sebabnya. Tapi selanjutnya tiada masalah lagi, sepertinya lancar saja pertunjukan berlangsung. Lagu instrumental pengiring tarian keempat merupakan ciptaanku sendiri. Terima kasih layak kuucapkan kepada Mbak Yayuk, Mbak Putria, dan Mbak Utik yang memberi kepercayaan kepadaku untuk mengiringi anak-anak asuhannya menari.

Anak-anak vokal menyanyikan empat lagu karya Pak Sigit di antara sejumlah adegan yang dimainkan anak-anak teater, jadi aku mainnya juga manut Mas Broto selaku sutradara malam itu. Kusyukuri jua pentasnya berjalan mulus, penontonnya lumayan banyak, kendati aku sempat rada terbebani dengan awal yang buruk. Yah, yang penting akhirnya melegakan. Terima kasih juga untuk Pak Sigit, Mas Broto, seluruh orang yang terlibat dalam pertunjukan malam itu, dan tentunya AFC TBY. Riang hatiku menjadi bagian dari mereka selama ini.

Sebuah Cerita dan Sejumlah Hikmah

Curhat  Tagged , , , , No Comments »

Menebar Benci di Saat Fitri (cerita 100 kata)

Selayaknya pasti ketika tiba 1 Syawal lalu, hati kita bertaburan cinta serta kasih sayang. Jadi tiada yang susah untuk meminta dan memberi maaf atas segala salah maupun khilaf. Maka sungguh aneh dan tak lazim ketika ada seseorang yang justru mengeluarkan kata-kata yang melukai hati. Ironisnya, pada saat semua insan sedang saling memaafkan dan melupakan kesalahan silam, justru dilakukannya hal itu.

Ketika sebuah kerja keras sekian bulan dikatakan sebagai hal yang tak bermanfaat, siapa yang akan gembira dengan sikap seperti itu? Namun bisa jadi itulah sebentuk ujian, selapang apa hati sejatinya. Yang terbaik tetap memaafkan, biarkan luka itu sembuh dengan sendirinya.

Tidak Menyakiti dan Menjaga Perasaan

Ketika kusimak penampilan Slamet Gundono di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada Jumat terakhir Ramadhan (26/9) lalu, ada banyak hikmah yang disampaikan. Salah satunya adalah pesan guru Kang Slamet saat masih di pesantren. Menurut sang guru, hanya orang yang tidak pernah menyakiti orang lain yang boleh berharap mendapatkan lailatul qadar (malam kemuliaan). Dengan kata lain, tidak akan mulia seseorang jika ia pernah menyakiti orang lain. Lanjut Kang Slamet, saat itu ia menanggapinya dengan bilang tidak mungkin. Bahkan orang diam pun bisa menyakiti orang lain tanpa sengaja. Tapi bagaimana pun kita mesti tetap berusaha untuk tidak pernah menyakiti siapa pun. Lebih baik lagi jika kita selalu mampu menjaga perasaan orang lain, minimal orang-orang terdekat kita sendiri. Demikianlah salah satu pesan terakhir yang tersirat sebelum ibuku wafat tempo hari. Jadi ada hubungannya antara cerita di atas, pesan guru Kang Slamet, dan pesan terakhir ibuku.

Kendati kita merasa sudah menjadi orang baik, tapi tetap saja pasti ada hal-hal yang salah di mata orang. Di sisi lain, bahkan orang-orang baik yang kita kenal pun pernah menyakiti hati kita, entah mereka sengaja atau tidak. Meminta maaf itu baik, tapi memberi maaf itu lebih mulia. Kita mestinya akan mudah memaafkan karena selalu melihat keterbatasan diri kita pada manusia lain, sadar bahwa insan selalu punya keterbatasan, tiada yang sempurna. Ingatlah kebaikan orang lain dan lupakan keburukannya kepada kita. Ingatlah keburukan kita pada orang lain dan lupakan kebaikan kita kepadanya. Semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang pemaaf, toleran, dan memiliki empati kepada siapa saja.

Reuni SMA

Kabar  Tagged , , , , 2 Comments »

Akhirnya terwujudlah pertemuan kembali anak-anak lulusan SMA 5 Yogyakarta pada sebuah tahun 90-an di hari Minggu (12/10) kemarin. Memang tak sebesar yang direncanakan sekitar setengah tahun silam. Tapi tetap saja hal itu menyenangkan dan mesti disyukuri. Apalagi rencana besar itu sempat terhenti di simpang jalan, gara-gara sang pelopor didera masalah pribadi (yang tak kami pahami), lantas menghilangkan jejaknya dari teman-teman SMA-nya. Tanpa dirinya, masih ada segelintir orang yang terus bersemangat untuk melangkah, hingga akhirnya Tuhan memperkenankan berlangsungnya acara kami. Sekitar 40 orang saja yang hadir. Cukup mengejutkanku bisa ketemu beberapa teman yang tak terduga. Ada yang sejak lulus SMA, baru kemarin kujumpai mereka lagi. Acaranya pun lumayan gayeng, terutama ketika kami maju bergiliran sesuai kelas 3 masing-masing. Yang terang, suasana sukacita begitu mewarnai perjumpaan kami. Segala duka pun hengkang saat melepas kerinduan. Di awal acara kami menyanyikan lagu Mars Puspanegara dan ternyata masih ada beberapa teman yang hapal. Salut buat teman-teman!

Sebenarnya sekitar 10 tahun lalu sebagian di antara kami pernah pula berkumpul bersama. Uniknya, tempat pertemuan itu tak jauh dari tempat perjumpaan kami kemarin dan sekitar 40 orang pula yang datang. Sayangnya, reuni kecil itu tak ada kelanjutannya, terhenti begitu saja. Semoga reuni kecil tahun ini tak bernasib sama. Insya Allah kami akan bertemu kembali, bahkan semoga dengan teman-teman yang lebih banyak lagi kelak. Dan tidak sekadar menjadi ajang mengenang masa silam, tapi ada hal-hal positif yang bisa menjadi bagian dari masa depan bersama. Paling tidak, ada sebagian di antara kami yang selalu berkoneksi via internet hampir setiap hari. Jadi pastilah tetap terjalin komunikasi yang positif.

Ada pesan berharga dari Purwanta, mantan ketua OSIS angkatan kami yang sekarang menjadi jaksa ‘gaul’. Benar katanya bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih bermartabat ketimbang pekerjaan lainnya, karena apa pun yang kami kerjakan sekarang pasti bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadi tiada alasan untuk berkecil hati, merasa berbeda, lalu enggan bertemu teman lama. Bagiku, justru persamaan sebagai orang-orang yang pernah menjadi anggota sebuah komunitas di masa lalu itu yang selalu menarik untuk diikuti. Tak peduli bahwa ada sejuta perbedaan, yang sejatinya sama sekali bukan masalah. Buat teman-teman : meski kita kembali berpisah, semoga pertemanan kita tak lagi lekang. Semoga masih ada waktu yang bakal mempertemukan kita lagi. Salam Puspanegara!

Sehabis Ramadhan Kini

Curhat  Tagged , , , , No Comments »

Tuntas sudah kini 30 hari berlangsungnya bulan suci. Semoga segenap amal ibadah yang kita lakukan saat Ramadhan menjadi perkenan Allah swt dan tiada yang sia-sia. Semoga segala dosa kita telah mendapatkan ampunan-Nya jua. Sementara kita sesama insan pun semoga telah mampu saling memaafkan. Syukur alhamdulillah, rasanya ada beberapa kemajuan terjadi padaku -ketimbang setahun silam- karena dapat lebih kumanfaatkan kesempatan yang tersedia. Meski di sisi lain masih terdapat pula kekurangan dan hal-hal yang belum maksimal. Sejumlah rezeki tak terduga yang kuterima menjadi kesan tersendiri bagiku Ramadhan tahun ini.

Salah satu kelemahan hidup kita adalah kegagalan menangkap makna. Bagaimana kita memaknai Idul Fitri yang kerap disebut sebagai hari kemenangan itu? Sudahkah kita kembali fitrah dalam arti sesungguhnya? Mestinya di bulan Syawal ini terjadi peningkatan kualitas hidup, setelah selama sebulan kita berpuasa dan memperbanyak amal shalih. Namun sungguh tak mudah untuk menjaga konsistensi ibadah sehabis Ramadhan, dengan tetap terus menapakkan jejak kebaikan dalam perjalanan hidup ini. Tampaknya kita selalu tergoda untuk kembali pada rutinitas seperti sebelum datangnya bulan istimewa itu lagi. Memang tiada lagi pahala yang berlipat ganda seperti bulan lalu. Tapi bukankah setiap amal kebaikan kita tetap selalu dicatat oleh para malaikat-Nya, sebagaimana dosa kesalahan kita pun demikian pula? Sebenarnya renungan ini paling layak untuk diriku yang mencoba terus introspeksi. Menjadi niat dan tekadku untuk menjalani hari-hari pasca Ramadhan dengan lebih apik ketimbang sebelum bulan suci. Semoga Allah swt meridhai niat baikku ini. Mohon maaf dengan segenap jiwa dan setulus hati.

Selamat Idul Fitri 1429 H

Uncategorized  Tagged , No Comments »

Terkenang Ibunda

Puisi  Tagged , , , , , , 2 Comments »

Cemas sempat meremas
Apakah kalbu telah sekeras batu?
Barangkali sudah setinggi Himalaya
Atau bisa jadi seluas Asia
Segenap dosa kesalahan yang menjelma
Sekiranya ditumpuk atau digelar utuh
Namun sesalku tak cukup menyentuh
Palung hati terdalam, kendati begitu hasratku

Baru ketika terkenang mendiang Ibunda
Teringat kerap kubuat sedih dan kecewa dirinya
Tersadar belum cukup kuberi bahagia dan bangga untuknya
Pecahlah kantung air mata
Meneteslah tanpa terbendung lagi
Ternyata kalbu mungkin masih selembut salju

Ya Allah, perkenankan aku bahagiakan dia
Kendati dia telah jauh tak bisa kutemui lagi
Biarkanlah hidupku berarti bagi Ibunda

(malam ke-21 Ramadhan 1429 H)
21 September 2008


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in