Pelajaran dari Keponakan Kecilku
Curhat Tagged keponakan, pelajaran, tersenyum No Comments »Ada satu pelajaran berharga kudapatkan dari Emal, keponakan kecilku yang termuda. Menurut cerita ibunya –yang juga sempat kusaksikan sendiri- setiap kali anak ketiganya itu sakit, ternyata bocah 16 bulan itu tetap selalu tersenyum. Keceriaannya tak sirna, kendati kondisi tubuhnya sedang kurang baik. Melihat hal itu, Iyaz kakaknya heran dan bertanya pada ibunya. Mendapat pertanyaan seperti itu, kakakku malah jadi menasihati anak pertamanya itu supaya bisa bersikap seperti adiknya. Iyaz sendiri jika sedang sakit selalu jadi rewel bukan main. Padahal dalam kesehariannya bocah 9 tahun itu sangat pendiam. Adik ceweknya -namanya Puti- yang tomboy dan biasanya sangat aktif bergerak, kalau pas sakit malah jadi pendiam. Iyaz sepertinya bersedia mencoba mengikuti sikap positif adiknya.
Jadi, marilah kita berusaha untuk tetap tersenyum, apa pun yang sedang terjadi. Terutama justru jika kita sedang merasa sakit, susah, gundah, atau berduka. Niscaya segala sesuatunya jadi terasa lebih ringan, bahkan indah, dan pasti bisa segera membaik nantinya. Memang hal itu sebuah nasihat yang sudah lama pernah kudengar. Tapi aku justru diingatkan kembali oleh keponakan kecilku yang masih begitu minimal mengenal dunia, yang belum lama dihuninya itu. Semoga seluruh keponakanku mampu menjadi orang-orang yang jauh lebih baik ketimbang pamannya ini. Amin.

