Sepuluh Tahun Berlalu

Curhat  Tagged , , , , 3 Comments »

Sepuluh tahun telah cepat berlalu. Pada tanggal 6 Desember 1998, dua sejoli yang saling mencintai telah terikat dalam sebuah janji nan suci. Kini mereka sudah dikaruniai tiga orang anak yang pintar dan lucu. Alhamdulillah, sepuluh tahun pertama telah mereka lewati dengan sejuta kisah. Semoga masih bakal panjang lagi umur mereka dan selalu berlimpah rahmat dari Allah swt. Amin.

Pada sepuluh tahun silam itu, untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari sebuah prosesi akad nikah. Sebagai satu-satunya anak lelaki di keluargaku, aku bertugas menggantikan tugas almarhum Bapak untuk menjadi wali nikah kakak perempuanku. Tugasku itu berlanjut di tahun 2000 dan 2001. Pernikahan kakakku di tahun 2000 berakhir di tahun 2003 karena kakakku itu sudah kembali ke haribaan Ilahi. Sementara itu pernikahan di tahun 2001 menghasilkan satu orang keponakanku yang kini duduk di kelas 1 SD.

Masih kuharapkan untuk kembali menjadi bagian dari sebuah akad nikah, namun tentu saja menjadi orang yang dinikahkan, bukan lagi sebagai yang menikahkan. Akan tetap sabar kutunggu hingga tiba saat itu, yang semoga telah kian dekat menjelang. Dan semoga masih cukup waktuku di dunia ini.

Pelajaran dari Keponakan Kecilku

Curhat  Tagged , , No Comments »

Ada satu pelajaran berharga kudapatkan dari Emal, keponakan kecilku yang termuda. Menurut cerita ibunya –yang juga sempat kusaksikan sendiri- setiap kali anak ketiganya itu sakit, ternyata bocah 16 bulan itu tetap selalu tersenyum. Keceriaannya tak sirna, kendati kondisi tubuhnya sedang kurang baik. Melihat hal itu, Iyaz kakaknya heran dan bertanya pada ibunya. Mendapat pertanyaan seperti itu, kakakku malah jadi menasihati anak pertamanya itu supaya bisa bersikap seperti adiknya. Iyaz sendiri jika sedang sakit selalu jadi rewel bukan main. Padahal dalam kesehariannya bocah 9 tahun itu sangat pendiam. Adik ceweknya -namanya Puti- yang tomboy dan biasanya sangat aktif bergerak, kalau pas sakit malah jadi pendiam. Iyaz sepertinya bersedia mencoba mengikuti sikap positif adiknya.

Jadi, marilah kita berusaha untuk tetap tersenyum, apa pun yang sedang terjadi. Terutama justru jika kita sedang merasa sakit, susah, gundah, atau berduka. Niscaya segala sesuatunya jadi terasa lebih ringan, bahkan indah, dan pasti bisa segera membaik nantinya. Memang hal itu sebuah nasihat yang sudah lama pernah kudengar. Tapi aku justru diingatkan kembali oleh keponakan kecilku yang masih begitu minimal mengenal dunia, yang belum lama dihuninya itu. Semoga seluruh keponakanku mampu menjadi orang-orang yang jauh lebih baik ketimbang pamannya ini. Amin.


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in